__temp__ __location__
`

Perlawanan terhadap kesewenang-wenangan adalah kunci dari kebebasan. Kebebasan setiap individu adalah hak yang harus ditunaikan. Apalagi bicara seni, seni adalah ekspresi yang bebas dari kebebasan itu sendiri. Seni tidak dapat dilumat dengan sebuah maklumat. Seni tidak bisa dihadang oleh kepentingan-kepentingan golongan. Ia bebas melayang dengan tenang tanpa batas-batas yang mengekang.

Seni—khususnya sastra—adalah sebuah perwujudan dari kehidupan setiap insan. Sastra tak bisa dilepaskan dari kondisi sosial yang ada di sekitar. Sastra dalam konteks perlawanan bukan hal yang tabu untuk diungkapkan melainkan adalah kewajaran dalam mengekspresikan kehidupan. Sastra ‘perlawanan’ hadir bukan tanpa alasan. Ia berdiri pada sebuah fakta imajinatif dari rekaan dunia semesta. Pada batas-batas objektif, ia patuh dan tetap melawan ketidakadilan.

Tragedi 1998 adalah kisah perlawanan terhadap kesewenangan para oknum bangsa ini. Tragedi yang terus diingat dari berbagai sudut pandang setiap orang. Tragedi yang memangsa rakyat di negerinya sendiri. Tragedi yang menjadikan sastra sebagai ancaman dalam kepemimpinan. Sebut saja penyair kondang WS. Rendra yang secara lantang melalui karyakaryanya menarasikan perlawanan. Rendra dikenal dengan sajak-sajaknya yang dengan lugas menentang segala macam kezoliman.

Penyair yang punya julukan Burung Merak ini pada 17 Mei 1998 membuat sebuah puisi yang berjudul Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia. Sajak ini ia buat akibat kerusuhan yang terjadi pada akhir Orde Baru tersebut dan sebagai bentuk perlawanan terhadap pimpinan tertinggi saat itu yang menjabat sebagai presiden selama 32 tahun. Tidak hanya menulis sajak, Rendra pada esok harinya membacakan puisi Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia ini tepat pada 18 Mei 1998 di gedung DPR. Dengan keberaniaannya sejak menulis puisi-puisi yang mengkritik kebiadaban Orde Baru, Rendra sering kali ditangkap dengan dalih melawan pemerintahan, tapi ia tak gentar. Baginya, kesewenangan harus dituntaskan dan dilawan.

Selain Rendra, Wiji Thukul yang mengetuai Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat. Karir keseniannya tak laagi diragukan, Wiji keliling kampung membacakan sajaksajaknya kepada masyarakat luas. Sajak yang ia bacakan berisi kesadaran akan dinamika politik di Indonesia pada saat itu. Wiji dengan tegas melawan kekejaman Orde Baru melalui puisi-puisinya. Misalnya saja puisi yang berjudul Momok Hiyong yang ia tunjukan untuk si pembuat kedzoliman yang selalu menginjak rakyat kecil tanpa ada rasa kemanusiaan. Ada pula puisi yang sampai sekarang masih menjadi puisi perlawanan buat berbagai kalangan yaitu puisi berjudul Peringatan. Puisi Peringatan ini adalah simbol perlawanan kata-kata dari sosok Wiji Thukul yang diculik oleh kekejaman Orde Baru beserta kroni-kroninya.

Baik Rendra maupun Wiji adalah salah dua orang yang melakukan perlawanan kekejaman Orde Baru dengan kesenian terkhusus dengan puisi-puisinya. Tak mudah dilupakan, itulah kata-kata yang pantas untuk Tragedi 1998 secara khusus dan umumnya untuk sistem pemerintahan Orde Baru yang banyak menuai penderitaan rakyat Indonesia. Masih banyak seniman-seniman lain, khususnya sastrawan yang menggoreskan karyanya demi melawan penindasan. 

[RDR]

 

Bang Dickay
Bang Dickay

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *